Selasa, 11 Desember 2012

asal mula kesehatan masyarakat

Asal Mula Kesehatan Masyarakat

Kesehatan Masyarakat

Masa pendekatan kesehatan masyarakat yang paling awal dimulai pada abad kesembilan belas dan bertepatan dengan cepatnya pertumbuhan kota industri, sering kali disertai oleh pemukiman yang terlalu padat, sanitasi dan nutrisi yang buruk, serta penyebaran penyakit menular. Pada saat itu, ada pegawai pemerintah di Inggris, Edwin Chadwick, salah seorang yang dikenal pertama kali membuat hubungan antara lingkungan tempat tinggal individu dengan status kesehatan mereka: ia menduduki komite di parlemen yang menelusuri penyebab mortalitas dan morbiditas pada tahun 1830-an, menyusun suatu langkah selama satu dasawarsa dan tindakan nyata untuk meningkatkan sanitasi, menyediakan air bersih, membangun sistem drainase, serta memungkinkan pembuangan kotoran/ limbah yang aman.
Dampak tindakannya sungguh luar biasa; pada tahun 1842, Chadwick memperkirakan bahwa angka harapan hidup anak yang terlahir dari kelompok pekerja di setiap kota provinsi adalah antara 12 dan 15 tahun. Pada tahun 1900, jumlah mortalitas bayi tercatat 156 kasus per 1.000 bayi lahir hidup; dan angka ini telah mengalami penurunan hingga 36 per 1.000 bayi pada tahun 1946 dan saat ini, seperti yang diulas sebelumnya, angka ini menjadi 7 kasus per 1.000 bayi lahir hidup.
Selama abad ke-duapuluh, kesehatan masyarakat meluas melebihi bidang sanitasi masyarakat dan epidemiologi. Bidang kesehatan masyarakat mencakup program pendidikan kesehatan untuk memotivasi individu agar menerapkan gaya hidup yang lebih sehat.
Dampak peningkatan kesehatan masyarakat berhubungan langsung dengan peningkatan kesehatan ibu dan bayi. Tew mendemonstrasikan bagaimana penurunan angka mortalitas dihasilkan dari peningkatan status kebugaran para ibu usia subur, melalui peningkatan diet dan kondisi kehidupan di akhir abad ke sembilan belas:
Mortalitas ibu dan mortalitas di masa perinatal sangat bergantung pada standar nutrisi ibu baik selama masa gestasi dan yang tidak kalah pentingnya, selama kehidupan ibu semenjak is berada dalam kandungan. Proses tersebut bersifat kumulatif dari beberapa generasi.
Kesehatan Masyarakat Hingga Tahun 1997: Dari WHO Hingga Bobble Hats
Pada tahun 1977, World Health Organization (WHO) mengadopsi pendekatan kesehatan masyarakat secara eksplisit dalam kampanye Health For All by the Year 2000 (HFA 2000). Kebijakan ini mencerminkan kesepakatan masyarakat dunia bahwa “target sosial utama pemerintah dan WHO horns berupa pencapaian tingkat kesehatan oleh seluruh orang di dunia pada taint!! 2000, yang akan memungkinkan mereka memperoleh kehidupan produktif, balk secara sosial maupim ekonomis….” HFA 2000 menandai permulaan pendekatan yang telah dilakukan selama lebih dari 20 tahun, yang bertujuan melindungi dan meningkatkan kesehatan penduduk, menekankan lebih dari sekadar pelayanan kesehatan. Konsep ini kemudian diatur ke dalam suatu kode pada prinsip WHO yang tetap dipakal oleh para bidan, sebagai daftar pemeriksaan yang terkait, dalam setiap pertemuan dengan klien.
Meskipun sepanjang tahun 1980-an banyak negara industri di barat menerjemahkan konsep Health For All ke dalam kebijakan nyata, the UK’s Conservative Government menolak seluruh analisis yang menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan negara dapat mengatasi atau mengurangi dampak kesenjangan kesehatan. Kebijakan kesehatan ini lebih banyak berfokus pada kebutuhan untuk menghasilkan perubahan perilaku individu, berpusat pada gaya hidup, dan melibatkan pendidikan kesehatan masyarakat serta kampanye informasi masyarakat. Pemerintah tidak hanya menolak untuk mengembangkan strategi Health For All secara nasional, tetapi juga menolak rekomendasi Ilmuwan Terkemuka dari negaranya sendiri yang dituntut akibat ulahnya mengeksplorasi faktor-faktor lebih luas yang memengaruhi masalah kesehatan.
The Black Report (diistilahkan demikian setelah kajian kelompok kerja oleh Kepala Departemen Kesehatan di Inggris) merupakan indikasi mengejutkan tentang adanya jurang pemisah dalam status kesehatan kelompok penduduk terkaya dan termiskin serta faktor sosio-ekonomi yang melatarbelakanginya.
Tidak ada diskusi tentang kesehatan masyarakat yang tidak menghasilkan penilaian berharga, dan jelas bahwa ideologi politis yang didasarkan pada pasar bebas, dan kesenjangan yang tidak terelakkan (dan memang diharapkan?) yang dihasilkannya, tidak akan dengan mudah dipadankan dengan agenda kesehatan masyarakat yang berfokus untuk menghilangkan kesenjangan sosial dan ekonomi yang menyebabkan banyak kondisi sakit. Pendekatan pemerintah Inggris sepanjang tahun 1980-an dan awal 1990-an paling baik diilustrasikan oleh Menteri Kesehatan Edwina Currie, yang memheri saran kepada lansia yang terancam hipotermi karena tidak mampu memfasilitasi pemanasan dengan mengenakan topi berbahan dasar wool dan tetap berbaring di tempat tidur; sementara Sekretaris Negara Virginia Bottomley merekomendasikan (Jay 1997) pemecahan masalah tingginya laju penyakit jantung, yaitu dengan mengonsumsi lebih sedikit biskuit dan berlari menaiki dan menuruni tangga!
Dalam ilmu kebidanan, konsekuensi iklim politis yang berlaku dibuktikan dengan respons Pemerintah terhadap I-louse of Commons Select Committee Report tentang pelayanan maternitas (the Winterton Report). The Winterton Report tidak hanya mengeksplorasi penyediaan pelayanan kesehatan untuk ibu hamil dan bayi baru serta masalah di seputar kualitas pelayanan, hasil dan pengalaman ibu, tetapi juga difokuskan pada konteks sosial dalam lingkup pemberian asuhan maternitas. Laporan ini juga memberikan bukti kuat tentang adanya kesenjangan, balk dalam basil maupun dalam akses bagi wanita yang tidak beruntung maupun wanita yang diasingkan. Selain itu, laporan tersebut membuat rekomendasi tentang keamanan sosial dan sistem keuntungan yang berkaitan dengan wanita hamil, serta melihat ketersediaan dukungan sosial bagi wanita yang rentan pada transisi mereka ke masa menjadi ibu. Namun, respons Pemerintah yang dipublikasikan di tahun 1994 dalam the Cumberledge Report, yang tetap menjadi cetakan biru penting dalam pelayanan maternitas, mangabaikan seluruh pertimbangan tersebut. Changing Childbirth secara eksklusif berfokus pada pengalaman individual wanita dan mantranya tentang “pilihan, kontinuitas, dan kontrol” tidak banyak bermanfaat untuk wanita yang berasal dari kelompok yang paling rentan dan diasingkan.
Sebenarnya penekanan pada kesukaan dan pilihan setiap individu dapat menyimpangkan perspektif yang lebih luas tentang keadilan dan pemerataan: “apa yang terbaik untuk seseorang, belum tentu terbaik untuk semua orang” (Klein 1994). Rasionalisasi “trickle-down”, yang berasumsi bahwa keuntungan yang diperoleh oleh wanita kelas menengah atas kelahiran di rumah, homeopati dan kelahiran dalam air, lambat laun akan mengubah struktur dan penyediaan asuhan untuk semua, telah terbukti keliru. Pada kenyataannya, kebijakan seperti Changing Childbirth secara tidak langsung dapat mengarah pada meruncingnya hukum asuhan yang terbalik dan meluasnya kesenjangan kesehatan, dengan wanita yang paling membutuhkan dukungan emosional, psikologis, dan praktis dari asuhan kebidanan yang baik, hanya memiliki kemungkinan kecil untuk mengaksesnya.
Kesehatan Masyarakat Baru
Kesehatan masyarakat baru, yang diluncurkan oleh WHO pada tahun 1977 dan diabaikan oleh pemerintah Inggris hingga tahun 1997, memberikan semakin banyak penekanan pada lingkungan sosial-ekonomi, terutama pada dampak kemiskinan an kesenjangan kesehatan. Lebih khusus lagi kesehatan masyarakat baru telah menyadari bahwa bukan kemiskinan semata yang penting bagi hasil kesehatan, tetapi juga kesenjangan, yang kadang kala disebut kemiskinan relatif, prevalensi dan distribusi posisi sosial, ketidakamanan kerja, pengangguran, mobilitas sosial, edukasi, social networking, keretakan keluarga dan stres (Kaufmann 2002). Kesehatan masyarakat baru mengenali bahwa penyebab sakit adalah hal kompleks. Tentu saja, para bidan akan memahami bahwa merokok, obesitas, penyalahgunaaan obat dan perilaku seksual ugal- ugalan berkaitan dengan status kesehatan yang buruk. Namun, apa yang diperlihatkan epidemiologi pada kita bahwa bukan saja perbedaan di antara individu yang dirasa signifikan, tetapi juga perbedaan antar kelompok—ditentukan oleh tingkat penghasilan, deprivasi sosial, status pekerjaan, perolehan pendidikan, dan etnisitas. Dengan demikian, kita dapat menyaksikan bahwa gaya hidup (lifestyle) tidak sehat tidak terdistribusi secara acak di masyarakat; melainkan lebih banyak didapati terpusat pada spektrum sosial-ekonomi tingkat bawah di antara kelompok yang rentan ini (Evans 2002).
Pemilihan Labour Government di Inggris pada tahun 1997 menggembar- gemborkan pergeseran ke arah pemerintahan sayap-kiri yang menyatakan komitmennya untuk meningkatkan standar asuhan, khususnya di antara masyarakat kelas terbawah. Kemudian, pada Mei 1997, Menteri Kesehatan, Tessa Jowell, mengundang mantan Chief Medical Officer Donald Acheson “untuk mengulas dan merangkum kesenjangan dalam status kesehatan di Inggris serta mengidentifikasi area prioritas dalam kebijakan untuk mengurangi keadaan tersebut”. The Acheson Report (Penyelidikan Independen tentang Kesenjangan) diterbitkan setahun kemudian dan memberikan penjelasan sosio-ekonomi yang ada dalam kesenjangan kesehatan, manyoroti makna keragaman penghasilan, pendidikan, pekerjaan dan lingkungan, juga gaya hidup Pengaruh kesehatan masyarakat baru jelas terlihat dalam pengakuan Pemerintah bahwa NHS sendiri tidak mampu memastikan status kesehatan yang baik. Sejak tahun 1997, mereka lebih mengedepankan prakarsa yang menghendaki agar tercipta kesolidan di antara pemerintah, masyarakat dan individu dengan pengenalan akan tanggung jawab masing-masing.
The Acheson Report hanya merupakan salah satu dasar prakarsa yang diluncurkan oleh pemerintah untuk melakukan pendekatan terhadap kesenjangan dan pengucilan sosial melalui program pembaharuan lingkungan sekitar untuk membangun kekuatan dan kekompakan di dalam masyarakat setempat (Coote 2000). Pada bagian selanjutnya, kami mengulas lebih gamblang mengenai prakarsa kebijakan yang telah dilaksanakan sejak 1997 untuk membangun sebuah pendekatan kesehatan masyarakat di Inggris

Pustaka artikel: Asal Mula Kesehatan Masyarakat

Ilmu kesehatan masyarakat untuk mahasiswa kebidanan Oleh Padraig O’Luanaigh & Cindy Carlson

asam urat: rematik yang paling ditakuti

Asam Urat: Rematik Yang Paling Ditakuti

Asam urat telah dikenal sejak abad ke-5 SM, tetapi hingga sekarang belum juga ditemukan obat yang efektif untuk menyembuhkannya, meskipun pada akhir tahun 1814 telah ditemukan kolkisin sebagai dasar pengobatannya. Penderitanya semakin hari juga cenderung semakin bertambah. Umumnya yang sering terserang asam urat adalah kaum laki-laki karena kaum laki-laki memiliki kadar asam urat dalam darah yang memang lebih tinggi dari pada perempuan.
Fakta tersebut semakin menambah kekhawatiran masyarakat, terutama yang tinggal di daerah perkotaan. Pasalnya, masyarakat di wilayah ini banyak yang menjalani pola makan serba mewah, tetapi salah. Misalnya, mengonsumsi makanan berprotein tinggi atau beralkohol, yang tentunya bisa memacu peningkatan kadar asam urat dalam darah yang bisa menjadi penyebab utama penyakit asam urat. Selain pola makan, gaya hidup yang tergesa-gesa demi tuntutan kebutuhan, membuat kesibukan semakin tidak terelakkan. Mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk bersantai, apalagi berolahraga, belum lagi stres yang sering melanda. Jika kecenderungan seperti ini terus terjadi, kesehatan tubuh pun akan menurun dan penyakit asam urat akan timbul karena peredaran darah yang melemah dan sirkulasi darah yang tidak lancar.
Kekhawatiran akan semakin menjadi saat penyakit ini menyebabkan cacat tulang yang biasanya berupa tonjolan atau benjolan di daerah telinga, siku, dan punggung kaki. Di samping rasa nyeri yang dapat mengganggu aktivitas, benjolan itu juga bisa menganggu penampilan, yakni menjadi kurang sempuma. Belum lagi dengan munculnya penyakit lain yang juga kerap terjadi, seperti .
a. Penyebab dan Gejala Asam Urat
Penyebab utama penyakit asam urat atau gout adalah meningkatnya kadar asam urat dalam darah atau hiperurisemia. Hiperurisemia ini dibagi menjadi dua, yakni hiperurisemia primer yang tidak diketahui penyebabnya dan hiperurisemia sekunder yang diketahui penyebabnya, seperti kelainan glikogen dan ginjal. Normalnya, asam urat sebagai hasil samping dari pemecahan sel terdapat dalam darah karena tubuh secara berkesinambungan memecah dan membentuk sel yang baru. Ketika ginjal tidak sanggup mengeluarkannya melalui kandung kemih, kadar asam urat darah pun meningkat. Selain itu, tubuh juga dapat membuat asam urat dalam jumlah sangat tinggi akibat adanya abnormalitas suatu enzim atau serangan suatu penyakit. Sementara itu, jika dirunut dari sisi patofisiologi, penyebab peningkatan asam urat dalam darah bisa dilihat dari produksi asam urat yang berlebihan karena semakin tingginya asupan makanan yang mengandung purin; pembuangan asam urat yang berkurang akibat penurunan proses filtrasi, sekresi, absorbsi, dan reabsorbsi; serta kombinasi antara produksi asam urat yang berlebihan dan pembuangan yang berkurang akibat kurangnya enzim glukose 6 fodfatase dan konsumsi alkohol yang berlebihan.
Gejala dari penyakit ini datang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Gejala yang khas adalah nyeri di satu atau lebih sendi yang pada malam hari semakin terasa. Kadang-kadang persendian menjadi bengkak, kulit menjadi merah atau keunguan, dan tampak mengilap. Gejala-gejala ini pada akhirnya bisa mempengaruhi sendi di dasar ibu jari kaki dan kadang-kadang terasa di telapak kaki, pergelangan kaki, lutut, siku, serta pergelangan tangan. Pada persendian bagian tepi, seperti telinga, tulang belakang, panggul, dan juga bahu, biasanya akan terbentuk kristal. Gejala lainnya berupa demam, dingin, dan detak jantung cepat. Serangan pertama biasanya hanya mempengaruhi satu sendi dan berlangsung selama beberapa hari. Serangan bisa hilang begitu saja, tetapi bisa juga berkembang jika tidak segera diobati. Gejala asam urat yang berat, yakni berkumpulnya asam urat yang terusmenerus di bagian persendian dan otot. Hal ini bisa menyebabkan perubahan bentuk di bagian tubuh tertentu, seperti di daun telinga, bagian samping mangkuk sendi lutut, bagian punggung lengan, atau tendon belakang pergelangan kaki.
b. Diagnosis dan Komplikasi
Secara klinis, penyakit asam urat dibagi menjadi empat tahap, yakni tahap asimtomatik, akut, interkritikal, dan kronis. Setiap tahap ini memiliki gejala yang kadarnya berbedabeda. Tahap asimtomatik ditandai dengan meningkatnya asam urat tanpa disertai gejala nyeri, tofus, atau batu urat di saluran kemih. Tahap akut ditandai dengan serangan nyeri di persendian yang mendadak dan hebat, disertai rasa panas dan kemerahan yang umumnya terjadi di pangkal ibu jari kaki pada tengah malam dan dini hari. Tahap interkritikal yang ditandai dengan berjalannya aktivitas secara normal tanpa rasa sakit sama sekali, bahkan sebagian penderita tidak mengalami serangan kembali. Disebut memasuki tahap kronis jika ditandai dengan pembentukan tofus, setelah 11 tahun serangan pertama terjadi, akibat gejala yang tidak diobati. Dalam tahap ini, nyeri akan berlangsung lama, terusmenerus, dan akhirnya bengkak, sehingga sendi menjadi kaku dan sakit.
Orang yang merasakan gejala dan serangan pertama, sebaiknya segera didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan cairan sendi, atau melakukan uji radiologis. Hal ini harus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya komplikasi berat. Misalnya, nefropati asam urat yang terjadi akibat peningkatan konsentrasi asam urat dalam urine, baik yang hanya bersifat batu asam urat maupun nefropati asam urat akut. Di samping itu, nefropati urat yang ditandai dengan munculnya kristal urat dalam jaringan interstitial yang dikelilingi sel-sel besar di bagian dalam ginjal. Pada komplikasi ini, biasanya penderita juga mengalami tekanan darah tinggi dan kelainan proteinuria yang disertai dengan penurunan fungsi ginjal. Beberapa orang yang sangat rawan menderita asam urat di antaranya penderita obesitas, peminum alkohol, anggota keluarga pemilik riwayat penderita asam urat, orang yang kurang minum air putih, memiliki gangguan ginjal dan hipertensi, suka makan makanan berpurin tinggi, pengguna obat dalam waktu yang cukup lama, serta penderita diabetes mellitus.
Pustaka: Terapi Jus untuk Rematik & Asam Urat Oleh dr. Prapti Utami & Tim Lentera

penangannan hipertensi pada usia lanjut

Penanganan Hipertensi Pada Usia Lanjut

Berkat kemajuan dalam bidang ekonomi dan kesehatan jumlah penduduk yang melampaui usia 60-65 tahun meningkat pesat. Hal ini akan membawa masalah kesehatan yang selama ini jarang menjadi perhatian kita. Beberapa penyakit seperti pikun (demensia), keropos tulang (osteoporosis), masalah menopause. dan juga hipertensi sering menyerang di usia tua. Hipertensi pada usia lanjut perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Selain elastisitas pembuluh darah penderita yang menurun, kerja jantung umumnya pun sudah mulai terganggu. Hipertensi pada usia lanjut juga selalu membawa pengaruh buruk karena penyakitnya “tidak jinak”.
Pada usia lanjut bila tekanan darahnya, baik sistolik maupun diastolik, meninggi dalam waktu yang tidak terlalu lama maka harus dicurigai adanya pembuluh darah ginjal yang terganggu. Hal ini dikenal sebagai hipertensi renovaskuler aterosklerotik. Beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai hipertensi pada usia lanjut menghasilkan hal-hal yang menarik diketahui. Ternyata upaya menurunkan tekanan darah pada usia lanjut memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan golongan usia muda dan menengah.
Hubungan antara tekanan darah yang meninggi dengan penyakit jantung pembuluh darah (kardiovaskuler) lebih nyata terlihat pada penderita yang lanjut usia. Umumnya tekanan darah diastolik meningkat mengikuti pertambahan umur. Akan tetapi, tekanan darah sistolik peningkatannya lebih nyata pada usia lanjut.
Hal hal berikut perlu diperhatikan untuk menangani hipertensi pada penderita yang berusia lanjut. Selain kondisi tubuh yang sudah tidak prima, penderita pun perlu ditangani secara lebih sabar dan telaten.
1) Tekanan darah diukur pada posisi berdiri.
2) Penurunan tekanan darah lebih dari 20 mmHg setelah 1 menit pada posisi tegak. dianggap abnormal.
3) Tekanan darah diturunkan bertahap. Bila tekanan darah sebelumnya lebih tinggi dari 180 mmHg. tekanan diturunkan 20 mmHg lebih rendah. Selanjutnya tekanan diturunkan bertahap sampai sistolik kurang dari 160 mmHg dan diastolik kurang dari 90 mmHg.
Sumber: Ramuan tradisional untuk pengobatan darah tinggi Oleh Hembing Wijayakesuma,Hembing Wijaya Kusuma,Setiawan Dalimartha

penjelasan dan penanganan limbah industri

Penjelasan Dan Penanganan Limbah Industri

Limbah industri (industrial waste) yang berbentuk cair dapat berasal dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air pada proses produksinya. Selain itu limbah cair juga dapat berasal dari bahan baku yang mengandung air sehingga di dalam proses pengolahannya, air harus dibuang. Jenis-jenis industri yang menghasilkan limbah cair antara lain, industri pulp dan rayon, pengolahan crumb rubber, minyak kelapa sawit, baja dan besi, minyak goreng, kertas, tekstil, kaustik soda, elektor plating, plywood, tepung tapioka, pengalengan, pencelupan dan pewama, daging, dan lain-lain.
Limbah cair industri mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan berbahaya yang dikenal dengan sebutan B3 (bahan beracun dan berbahaya). Bahan ini dirumuskan sebagai bahan yang dalam jumlah relatif sedikit tetapi mempunyai potensi untuk mencemarkan dan merusak kehidupan dan sumber daya. Apabila ditinjau secara kimia, bahan-bahan tersebut mengandung 60.000 jenis bahan kimia dari 5 juta jenis bahan kimia yang sudah dikenal.
Tingkat bahaya keracunan yang disebabkan limbah ini bergantung pada jenis dan karakteristiknya, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Mengingat sifat, karakteristik dan akibat yang ditimbulkan limbah di masa sekarang maupun di masa akan datang, diperlukan Iangkah-langkah pencegahan, penanggulangan, dan pengelolaannya secara efektif. Air dari pabrik membawa sejumlah padatan dan partikel baik yang larut maupun yang mengendap. Bahan ini ada yang kasar dan halus. Kerapkali air dari pabrik berwarna keruh dan temperatrnya tinggi.
Air yang mengandung senyawa zat kimia beracun dan berbahaya mempunyai sifat tersendiri. Air limbah yang telah tercemar memberikan ciri yang dapat diidentifikasi secara visual maupun melalui pemeriksaan laboratorium. Identifikasi secara visual dapat diketahui melalui kekeruhan, warna air, rasa, bau yang ditimbulkan, dan indikasi lain. Sementara itu, identifikasi secara laboratorium (pemeriksaan laboratorium) ditandai dengan terjadinya perubahan sifat kimia air karena air telah mengandung bahan kimia yang beracun dan berbahaya dalam konsentrasi yang melebihi batas yang dianjurkan.
Jumlah limbah yang dikeluarkan masing-masing industri bergantung pada banyak produksi yang dihasilkan serta jenis produknya. Sebagai gambaran, industri pulp dan rayon menghasilkan limbah air sebanyak 30 meter kubik setiap ton pulp yang diproduksi. Contoh lainnya, industri ikan dan makanan laut menghasilkan limbah air berkisar antara 79-500 meter kubik perhari, sedangkan industri pengolahan crumb rubber menghasilkan antara 100-1000 meter kubik limbah air per hari.
Sifat-Sifat Limbah Cair Industri
Berdasarkan persenyawaan yang ditemukan dalam air buangan industri, sifat limbah cair tersebut dapat dikategorikan berdasarkan karakteristik fisika, kimia, dan karakteristik biologinya. Pengamatan mengenai karakteristik ini penting untuk menetapkan jenis parameter pencemar yang terdapat di dalamnya. Sifat kimia dan fisika masing-masing parameter dapat menunjukkan akibat yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan.
Berikut karakteristik yang dimiliki limbah cair industri.
1. Karakteristik fisik
Perubahan yang ditimbulkan parameter fisika dalam limbah cair industri, antara lain:
a. Padatan
Berasal dari bahan organik maupun anorganik, baik yang larut, meng-endap maupun yang berbentuk suspensi. Pengendapan di bagian dasar air akan mengakibatkan terjadinya pendangkalan pada badan dasar penerima, selain menyebabkan tumbuhnya tanaman air tertentu, seperti eceng gondok, juga berbahaya bagi makhluk hidup lain dalam air. Banyaknya padatan menunjukkan banyaknya lumpur yang terkandung dalam air limbah.
b. Kekeruhan
Kekeruhan menunjukkan sifat optis air yang menyebabkan pembiasan cahaya ke dalam air. Kekeruhan akan membatasi pencahayaan ke dalam air. Sifat ini terjadi karena adanya bahan yang terapung maupun yang terurai seperti bahan organik, jasad renik, lumpur, tanah liat, dan benda lain yang melayang maupun terapung. Nilai kekeruhan air dikonversikan ke dalam ukuran SiO, dalam satuan mg/l. Semakin keruh air, semakin tinggi daya hantar listrik dan makin tinggi pula kepadatannya.
c. Bau
Bau timbul karena adanya kegiatan mikroorganisrnie yang menguraikan zat organik untuk menghasilkan gas tertentu. Bau juga timbul karena reaksi kimia yang menimbulkan gas. Kuat lemahnya bau yang ditimbulkan bergantung pada jenis dan banyaknya gas yang dihasilkan.
d. Temperatur
Temperatur air limbah akan memengaruhi badan penerima apabila terdapat perbedaan suhu yang cukup besar. Temperatur juga dapat memengaruhi kecepatan reaksi kimia serta tata kehidupan dalam air.
Perubahan suhu memperlihatkan aktivitas kimia dan biologi pada benda padat dan gas dalam air. Pada suhu yang tinggi terjadi pembusukan dan penambahan tingkatan oksidasi zat organik.
e. Daya hantar listrik
Daya hantar listrik merupakan kemampuan air untuk mengalirkan arus listrik, yang tercermin dari kadar padatan total dalam air dan suhu pada saat pengukuran. Konduktivitas limbah cair dalam mengalirkan arus listrik bergantung pada mobilitas ion dan kadar yang terlarut di dalam limbah tersebut (senyawa anorganik > konduktor senyavia organik).
f. Warna
Warna timbul akibat terdapatnya suatu bahan terlarut atau tersuspensi dalam air, selain bahan pewarna tertentu yang mengandung logam berat.
2. Karakteristik kimia
Bahan kimia yang terdapat dalam air akan menentukan sifat air baik dalam tingkat keracunan maupun bahaya yang ditimbulkannya. Secara umum sifat air dipengaruhi oleh bahan kimia organik dan anorganik.
a. Bahan kimia organik
• karbohidrat dan protein
• minyak dan lemak
• pestisida,
• fenol,
• zat warna dan surfaktan
b. Bahan kimia anorganik
• klorida
• fosfor
• logam berat dan beracun
• nitrogen
• sulfur
3. Karakteristik biologi
• virus
Pengolahan Berdasarkan Tingkat Perlakuan
Menurut tingkatan prosesnya, pengolahan limbah dapat digolongkan menjadi beberapa. Namun, tidak berarti bahwa semua tingkatan harus dilalui karena pilihan tingkatan proses tetap bergantung pada kondisi limbah yang diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium. Dengan mengetahui jenis-jenis parameter dalam limbah, dapat ditetapkan.jenis peralatan yang dibutuhkan. Berikut beberapa tahapan pengolahan air limbah.
a. Prapengolahan (pretreatment)
Pada tahap ini, saringan kasar yang tidak mudah berkarat dan berukuran kurang lebih 30 x 30 cm untuk debit air 100 m persegi/jam sudah cukup baik. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, saringan dapat dipasang secara seri sebanyak dua atau tiga saringan. Ukuran messnya (besar lubang kawat tikus) dapat dibandingkan dengan kawat kasa penghalang nyamuk. Saringan tersebut diperiksa setiap hari untuk mengambil bahan yang terjaring. Contoh bahan-bahan yang terjaring dapat berupa padatan terapung atau melayang yang ikut bersama air. Bahan lainnya adalah lapisan minyak dan lemak di atas permukaan air.
b. Pengolahan primer (primary treatment)
Pada tahapan ini dilakukan penyaringan terhadap padatan halus atau zat warna terlarut maupun tersuspensi yang tidak terjaring pada penyaringan terdahulu. Ada dua metode utama yang dapat dilakukan yaitu pengolahan secara kimia dan fisika.
c. Pengolahan secara kimia dilakukan dengan cara mengendapkan bahan padatan melalui penambahan zat kimia. Reaksi yang terjadi akan menyebabkan berat jenis bahan padatan menjadi lebih besar daripada air. Tidak semua reaksi dapat berlaku untuk semua senyawa kimia (terutama senyawa organik).
d. Pengolahan secara fisika dilakukan melalui pengendapan maupun pengapungan yang ditujukan untuk bahan kasar yang terkandung dalam air limbah. Pengapungan dilakukan dengan memasukkan udara ke dalam air dan menciptakan gelembung gas sehingga partikel halus terbawa bersama gelembung ke permukaan air. Sementara itu, pengendapan (tanpa penambahan bahan kimia) dilakukan dengan memanfaatkan kolam berukuran tertentu untuk mengendapkan partikel-partikel dari air yang mengalir di atasnya.
Pustaka: Pengantar Kesehatan Lingkunagan